Kajen, 3 Juni 2026 – Pemerintah Kabupaten Pekalongan secara resmi mendeklarasikan Kecamatan Tangguh Bencana (Kencana) Tahun 2026 dalam sebuah kegiatan yang diselenggarakan di Aula Lantai I Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Pekalongan, Rabu (03/06/2026). Kegiatan ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat sistem penanggulangan bencana hingga ke tingkat kecamatan sebagai garda terdepan yang paling dekat dengan masyarakat.
Acara tersebut dihadiri oleh Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan Abdul Munir, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Pekalongan, perwakilan Polres Pekalongan, perwakilan Kodim 0710/Pekalongan, perwakilan Kejaksaan Negeri Kabupaten Pekalongan, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pekalongan Agus Pranoto, S.H., M.H., para kepala perangkat daerah terkait, camat, sekretaris kecamatan, kepala seksi ketenteraman dan ketertiban umum (Kasi Trantib) se-Kabupaten Pekalongan, serta para relawan penanggulangan bencana.
Dalam kegiatan tersebut hadir narasumber Kepala Pelaksana Harian BPBD Provinsi Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, serta Evan Ferdianto, Analis Kebijakan Ahli Madya Direktorat Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Kedua narasumber memberikan materi terkait penguatan peran kecamatan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana yang efektif dan terintegrasi.
Deklarasi Kecamatan Tangguh Bencana dinilai sangat relevan mengingat Kabupaten Pekalongan memiliki tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi, terutama bencana hidrometeorologi. Berdasarkan data BPBD Kabupaten Pekalongan, hingga bulan Juni tahun 2026 telah terjadi sebanyak 176 kejadian bencana alam di berbagai wilayah. Kondisi geografis Kabupaten Pekalongan yang terdiri dari wilayah pegunungan yang rawan longsor hingga kawasan pesisir yang kerap terdampak banjir rob menjadi tantangan tersendiri dalam upaya penanggulangan bencana.
Sebagai bentuk komitmen dalam meningkatkan kapasitas wilayah, Pemerintah Kabupaten Pekalongan menjadikan keberhasilan penanganan tanggap darurat di Kecamatan Petungkriyono pada Januari 2025 sebagai contoh praktik baik yang dapat direplikasi di kecamatan lainnya. Selain itu, pemerintah daerah juga berupaya memperluas pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana) yang saat ini baru berjumlah 18 desa di Kabupaten Pekalongan.
Rabu, 3 Juni 2026
Melalui kegiatan ini, seluruh peserta diajak untuk menyamakan persepsi bahwa penanggulangan bencana bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, melainkan merupakan urusan bersama yang membutuhkan keterlibatan seluruh unsur masyarakat, dunia usaha, relawan, dan pemangku kepentingan lainnya. Penguatan kapasitas kecamatan diharapkan mampu meningkatkan kecepatan, ketepatan, dan keterpaduan dalam merespons setiap kejadian bencana di wilayah masing-masing.
Dengan deklarasi Kecamatan Tangguh Bencana Tahun 2026 ini, Pemerintah Kabupaten Pekalongan berharap terwujud sistem penanggulangan bencana yang semakin tangguh, responsif, dan berkelanjutan guna melindungi masyarakat dari berbagai risiko bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Senin, 25 Mei 2026 pukul 09.00 WIB, telah dilaksanakan kegiatan Sosialisasi dan Simulasi Bencana Banjir di SD Negeri Tratebang, Kecamatan Wonokerto. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman serta kesiapsiagaan siswa dalam menghadapi potensi bencana banjir di lingkungan sekolah.
Kegiatan diikuti oleh sebanyak 125 siswa SD Negeri Tratebang dengan materi edukasi kebencanaan dan mitigasi bencana di lingkungan sekolah, serta pelatihan PPGD (Pertolongan Pertama Pada Kegawatdaruratan). Para peserta diberikan pemahaman dasar mengenai jenis-jenis bencana, langkah mitigasi bencana banjir, serta tindakan yang harus dilakukan saat terjadi kondisi darurat.
Selain penyampaian materi, kegiatan juga dilanjutkan dengan simulasi penanganan bencana banjir di lingkungan sekolah. Dalam simulasi tersebut, siswa diajarkan cara evakuasi yang aman dan tertib ketika terjadi bencana banjir.
Melalui kegiatan ini diharapkan para siswa dapat memahami pentingnya kesiapsiagaan bencana sejak dini, memiliki pengetahuan dasar kebencanaan, serta mampu bertindak cepat dan tepat ketika menghadapi bencana banjir.
Senin, 25 Mei 2026
Sabtu, 23 Mei 2026 pukul 01.15 WIB telah terjadi kejadian pohon tumbang di Jalan Raya Utama Kajen – Kandangserang, Kabupaten Pekalongan. Kejadian tersebut disebabkan oleh hujan lebat yang disertai angin kencang sehingga mengakibatkan sebuah pohon tumbang dan menutup akses jalan utama.
Laporan kejadian diterima pada pukul 01.15 WIB dari Kepala Desa Tajur. Menindaklanjuti laporan tersebut, Satgas Penanggulangan Bencana segera melakukan respon pada pukul 01.30 WIB dengan mempersiapkan peralatan serta bergerak menuju lokasi untuk melakukan assessment dan penanganan.
Akibat kejadian tersebut, akses jalan utama sempat tidak dapat dilalui kendaraan roda empat. Namun demikian, tidak terdapat korban jiwa dalam kejadian ini.
Dalam proses penanganan, petugas mengalami kendala karena kondisi cuaca yang masih turun hujan. Meski demikian, proses evakuasi dan pembersihan material pohon tumbang dapat diselesaikan pada pukul 02.23 WIB.
Saat ini kondisi mutakhir di lokasi kejadian, akses Jalan Raya Kajen – Kandangserang sudah kembali dapat dilewati kendaraan dan situasi dalam keadaan aman serta terkendali.
Sabtu, 23 Mei 2026
Senin, 18 Mei 2026 telah terjadi musibah laka air di Sungai Sengkarang, Desa Silirejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan. Kejadian dilaporkan terjadi sekitar pukul 17.00 WIB saat korban bersama sejumlah temannya berenang di sekitar area jembatan gantung Sungai Sengkarang.
Korban diketahui bernama Irsal Dwi Pratama (18), warga Gorek Warulor RT 005/RW 003, Desa Warulor, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan. Berdasarkan keterangan saksi, sebelumnya korban bersama teman-temannya berangkat dari rumah sekitar pukul 15.30 WIB menuju Sungai Sengkarang untuk mandi dan berenang. Setibanya di lokasi sekitar pukul 16.00 WIB, korban dan teman-temannya sempat diperingatkan oleh penjaga jembatan gantung karena kondisi sungai dinilai berbahaya. Namun, mereka kemudian berpindah lokasi ke sebelah selatan jembatan gantung dan tetap melanjutkan aktivitas berenang.
Sekitar pukul 17.00 WIB, korban bersama salah satu temannya berenang dari tepi barat menuju tepi timur sungai. Di tengah sungai korban diduga mengalami kelelahan dan meminta pertolongan kepada rekannya. Keduanya sempat mencapai tepi timur sungai, namun tiba-tiba tebing sungai mengalami longsor sehingga korban tenggelam. Rekan korban yang sudah kehabisan tenaga tidak mampu memberikan pertolongan lebih lanjut.
Mendapat laporan kejadian tersebut, Tim SAR gabungan segera melakukan upaya pencarian dan pertolongan dengan membagi beberapa Search and Rescue Unit (SRU). SRU I menggunakan Perahu LCR Basarnas, SRU II menggunakan Perahu LCR SAR Bumi Santri, SRU III menggunakan perahu PMI, serta SRU IV menggunakan Perahu LCR BPBD Kabupaten Pekalongan. Selain itu, tim juga melakukan penyisiran di sisi timur dan barat sungai, pencarian hingga Jembatan Pencongan dengan radius sekitar 4 kilometer dari lokasi kejadian, serta penyelaman di bawah Jembatan Silirejo.
Setelah dilakukan operasi pencarian intensif, korban akhirnya berhasil ditemukan pada Selasa, 19 Mei 2026 sekitar pukul 13.40 WIB, berjarak kurang lebih 50 meter dari lokasi terakhir korban terlihat, di kedalaman sekitar 5 meter. Selanjutnya korban dievakuasi dan dibawa ke RS Bendan untuk penanganan lebih lanjut. Dengan ditemukannya korban, operasi SAR resmi dihentikan.
Operasi pencarian melibatkan berbagai unsur di antaranya BPBD Kabupaten Pekalongan, USS SAR Pemalang, Polsek Tirto, Koramil Tirto, PMI Kabupaten Pekalongan, SAR Bumi Santri, Bagana, MDMC, Tagana, ORARI, LPBI NU Kabupaten Pekalongan, perangkat Desa Silirejo, UBALOKA, SAR Arvanat, SAR Kanzus, Elang Pendowo Rescue, Putra Samudra, Polairud Polda Jawa Tengah, Polairud Polres Pekalongan Kota, serta masyarakat setempat.
Selasa, 19 Mei 2026
Minggu, 10 Mei 2026
Selasa, 5 Mei 2026
Hantaman banjir rob yang melanda kawasan pesisir pantai utara kembali membawa dampak serius bagi warga di wilayah Kecamatan Siwalan. Meningkatnya volume air laut yang masuk ke muara memicu kenaikan drastis debit air di aliran Sungai Kapidodo (Kalikangkung), Desa Depok.
Kondisi ini diperparah dengan tingginya tekanan arus sungai yang melampaui ambang batas kemampuan tanggul penahan. Akibatnya, struktur tanggul di beberapa titik tidak lagi sanggup menahan beban air hingga akhirnya jebol.
Berdasarkan pendataan di lapangan, terdapat tiga titik kerusakan utama pada tanggul dengan rincian dimensi sebagai berikut:
Titik Pertama: Kerusakan sepanjang kurang lebih 12 meter.
Titik Kedua: Kerusakan sepanjang kurang lebih 5 meter.
Titik Ketiga: Kerusakan paling parah mencapai panjang kurang lebih 30 meter.
Jebolnya tanggul di ketiga titik tersebut menyebabkan air sungai meluap dan limpas mengancam pemukiman warga.
Saat ini, koordinasi antar pihak terkait terus dilakukan untuk melakukan langkah darurat guna meminimalisir dampak luapan agar tidak semakin meluas.
Rabu, 29 April 2026
Dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana, kegiatan sosialisasi dan simulasi kebencanaan dilaksanakan pada Rabu & kamis, 22-23 April 2026, mulai pukul 08.00 WIB, bertempat di SMP Negeri 1 Bojong.
Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 100 siswa-siswi SMP Negeri 1 Bojong dengan penuh antusias. Materi yang disampaikan berfokus pada pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana di lingkungan sekolah. Para peserta diberikan pemahaman mengenai berbagai jenis bencana yang berpotensi terjadi, langkah-langkah mitigasi sebelum bencana, tindakan yang harus dilakukan saat bencana berlangsung, serta upaya penanganan pasca bencana.
Selain penyampaian materi, kegiatan juga dilengkapi dengan simulasi bencana guna memberikan gambaran nyata kepada para siswa tentang cara bertindak cepat dan tepat dalam situasi darurat. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran serta keterampilan siswa dalam menghadapi potensi bencana di lingkungan sekitar.
acara diakhiri dengan menggelar simulasi gempa bumi di SMPN 1 Bojong. Siswa seolah dihadapkan pada keadaan darurat bencana gempa bumi dan dilatih untuk bisa melakukan evakuasi mandiri hingga pemberian pertolongan pertama pada korban bencana
Melalui kegiatan ini, diharapkan para siswa mampu membentuk sikap tanggap, sigap, dan siap siaga dalam menghadapi berbagai kemungkinan bencana, serta dapat menjadi agen edukasi di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan budaya sadar bencana sejak dini, khususnya di lingkungan pendidikan.
Kamis, 23 April 2026
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melaksanakan kegiatan sosialisasi pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana) di Desa Wonosari, Kecamatan Siwalan, pada Rabu (22/4/2026) pukul 10.00 WIB. Kegiatan ini berlangsung di Balai Desa Wonosari dan diikuti oleh sekitar 30 peserta yang terdiri dari perangkat desa, tokoh masyarakat, bidan desa, serta kader PKK.
Dalam kegiatan sosialisasi ini, peserta mendapatkan materi terkait manajemen bencana serta penjelasan mengenai pembentukan Destana, termasuk struktur relawan bencana dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB).
Dalam penyampaiannya, narasumber menjelaskan pentingnya pemahaman kebencanaan secara menyeluruh, mulai dari tahap prabencana, tanggap darurat, hingga pascabencana. Selain itu, peserta juga dibekali strategi mitigasi untuk mengurangi risiko bencana yang berpotensi terjadi di wilayah mereka.
Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat Desa Wonosari tidak hanya menjadi objek dalam penanggulangan bencana, tetapi mampu berperan aktif sebagai subjek yang memiliki kemampuan dalam mengenali ancaman serta mengelola sumber daya yang ada guna meminimalisir dampak bencana.
Dengan terbentuknya Desa Tangguh Bencana (Destana), diharapkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat Desa Wonosari semakin meningkat. Hal ini menjadi langkah penting dalam mewujudkan kemandirian masyarakat dalam menghadapi berbagai potensi bencana di masa mendatang.
Rabu, 22 April 2026